Unjuk Gigi di Amerika Serikat, Kopi Specialty Indonesia Bukukan Potensi Transaksi USD 26,3 Juta

Produk kopi khas dan premium (specialty) Indonesia kembali tampil di pameran Internasional. Kali ini, kopi specialty Indonesia unjuk gigi di pameran Global Specialty Coffee Expo (GSCE) 2019 yang berlangsung di Boston Convention and Exhibition Center, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat pada 11—14 April 2019. Saat pameran berlangsung, Indonesia berhasil membukukan transaksi potensial sebesar USD 26,3 juta dan nilai tersebut diprediksi akan terus bertambah, mengingat masih terdapat transaksi yang ditindaklanjuti. Keikutsertaan Indonesia kali ini merupakan hasil kerja sama Kedutaan Besar RI di Washington DC melalui Atase Perdagangan dan Atase Pertanian dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Chicago dan ITPC Los Angeles.

“Nilai transaksi pada pameran tahun ini menunjukkan kualitas kopi Indonesia sudah mendapatkan tempat bagi pencinta kopi dunia. Selain itu, citra Indonesia juga harus terus dikembangkan, tidak
hanya sebagai produsen dan eksportir biji kopi, namun juga nilai tambah dari kopi itu sendiri,” ujar Atase Perdagangan Washington DC Reza Pahlevi.

Pameran GSCE merupakan tempat berkumpulnya buyer premium kopi specialty di kawasan Amerika Utara dan menjadi acuan bagi tren kopi dunia. Pameran yang diikuti 515 peserta dari 41 negara ini dikunjungi lebih dari 14 ribu pengunjung dan hampir setengahnya merupakan buyer internasional. Tahun sebelumnya, tercatat 79 persen buyer yang datang merupakan buyer yang
memiliki otoritas pengambilan keputusan atau yang berwenang dalam memberikan rekomendasi pembelian di perusahaannya, sehingga pameran kopi ini menjadi sangat prospektif.

Pada pameran tahun ini, Paviliun Indonesia menghadirkan kopi specialty yang diusung Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia (AKSI), CV Gayo Mandiri, PT Santiang Exports, PT Meukat Komoditi Gayo, PT. Perkebunan Nusantara XII, PT Gayo Bedetak Nusantara, Upnormal Coffee Roasters, dan Tentera Coffee Roasters. Selain dari AS, buyers yang bertransaksi di Paviliun Indonesia berasal dari Belanda, Rusia, China, Swiss, Peru, Paraguay, dan Kanada. Selain itu, Indonesia juga diwakili peserta independen yaitu PT Sulotco Jaya Abadi (Kapal Api Group) yang menampilkan biji kopi hijau dan produk turunan kopi, serta Koperasi Arinagata dari Aceh yang terpilih menjadi salah satu duta perdagangan yang adil. Sementara kopi yang ditampilkan antara lain sumatra arabica gayo, lintong, solok minang, kerinci, west java preanger, toraja, flores, ciwidey, dan bali. Paviliun Indonesia tidak hanya menampilkan biji kopi hijau, namun beberapa perusahaan juga mengusung merek-merek dengan berbagai varian olahan kopi seperti roasted whole bean, pour over coffee bags, dan single serve pods.

Di sela pameran, lebih dari seratus peserta dari berbagai negara berpartisipasi dalam ajang bergengsi “World Coffee Championship” yang diadakan di Activities Hall. Kompetisi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu World Barista Championship dan World Brewers Cup. Pada the World Barista Championship, setiap kontestan harus menyiapkan empat kopi espreso, empat minuman berbahan dasar susu, dan empat minuman asli khusus dalam waktu 15 menit. Pada ajang ini, kontestan asal Indonesia yaitu Mikael Jasin dari Common Grounds Coffee Roaster Jakarta berhasil masuk ke putaran final dan meraih juara ke-4. Sementara ajang World Brewers Cup lebih memusatkan pada seni penyeduhan kopi secara manual. Dalam ajang ini, rasa dan penyajian menjadi penilaian utama para juri. Pada ajang ini, Indonesia diwakili Muhammad Fakhri brewer independen yang merupakan juara Indonesia Brewers Cup 2019. “Keberhasilan kontestan Indonesia dalam World Coffee Championship menunjukkan penggiat kopi nasional semakin dikenal dan diakui dunia. Diharapkan hal ini dapat mengangkat citra positif kopi Indonesia,” kata Reza.

AS merupakan pangsa pasar yang atraktif bagi eksportir kopi dari seluruh dunia. Menurut laporan National Coffee Data Trends tahun 2019 yang dirilis National Coffee Association (NCA), kopi
merupakan minuman yang paling digemari di AS dengan tren konsumen yang semakin memperhatikan aspek kesehatan dan keberlanjutan. Berdasarkan data US Department of Agriculture (USDA) dan Department of Commerce, AS adalah pengimpor kopi kedua terbesar dunia setelah Uni Eropa. Sedangkan Indonesia berada di urutan ke-6 sebagai negara pengekspor kopi ke AS dengan nilai mencapai USD 290 juta pada tahun 2018 dengan pangsa pasar sebesar 5,2 persen.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Perdagangan RI, 18 April 2019.

Data Harga Komoditas Dagang Pokok Dan Strategis Kota Manado Periode April Minggu Ke 1 Hingga April Minggu Ke 2 Tahun 2019

Download di sini: Data_KomoditasDagangPokokDanStrategis-Apr1~Apr2-2019_Manado

Kemendag Tingkatkan Target Ekspor Nonmigas 8% di Era Revolusi Industri 4.0

Memanfaatkan cepatnya perkembangan digitalisasi infrastruktur industri dan sosial di seluruh dunia dalam revolusi industri 4.0, Kementerian Perdagangan meningkatkan target pertumbuhan nilai ekspor nonmigas menjadi 8 persen atau sebesar USD 175,8 miliar di tahun 2019. Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam acara Indonesia Industrial Summit 2019 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, hari ini, Selasa (16/4) yang digelar Kementerian Perindustrian. “Tahun ini, Indonesia meningkatkan target pertumbuhan ekspor nonmigas dari sebelumnya ditetapkan 7,5 persen atau sebesar USD 175 miliar menjadi 8 persen atau sebesar 175,8 miliar di tahun 2019. Sementara di tahun 2018, kinerja ekspor nonmigas mencapai USD 162,8 miliar,” ungkap Mendag. Mendag juga menyampaikan, target peningkatan ekspor ini akan bisa tercapai dengan sinergi bersama, khususnya dengan Kementerian Perindustrian.

“Upaya peningkatan kapasitas industri yang dijalankan Kementerian Perindustrian akan didukung dengan upaya peningkatan pembukaan pasar-pasar baru tujuan ekspor serta percepatan perjanjian yang dilakukan Kementerian Perdagangan,” kata Mendag. Untuk mencapai target ini, lanjut Mendag, ada lima sektor prioritas di era Industri 4.0 yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, dan kimia. “Pada 2019, ekspor tekstil dan produk tekstil diproyeksikan meningkat hingga 30 persen. Ekspor produk makanan dan minuman juga diprediksi akan meningkat dan semakin kompetitif,” jelas Mendag.

Kemendag juga berkomitmen mendukung industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan andalan ekspor. “Sektor tekstil memiliki harapan dan potensi
yang sangat besar di masa mendatang. TPT kini merupakan salah satu produk andalan ekspor Indonesia yang terus tumbuh dan tidak bergantung pada bahan baku dan bahan penolong impor,
serta memiliki pasar yang besar di dalam negeri,” terang Mendag.

Strategi lain yang dilakukan Kemendag yaitu memfokuskan kembali pada produk industri olahan yang bernilai tambah tinggi dan diversifikasi produk ekspor, membuka pasar baru, mengelola tata
niaga impor dengan lebih baik, meninjau perjanjian perdagangan yang ada, menjalin perdagangan dengan mitra-mitra dagang yang baru, menyelenggarakan forum bisnis dan penjajakan bisnis di
negara mitra, mengembangkan ekspor jasa dan ekonomi kreatif, serta meminimalkan tindakan trade measure terhadap Indonesia.

Dalam hal perjanjian perdagangan, Kemendag terus mempererat kerja sama dengan mitra-mitra dagang utama. Misalnya, dengan Korea, Indonesia telah mengaktivasi kembali Indonesia-Korea
Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA). Indonesia juga telah menandatangani Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
Menurut Mendag, Indonesia menargetkan perdagangan bilateral dengan Korea meningkat menjadi sebesar USD 30 miliar pada 2022 dan dengan India menjadi sebesar USD 50 miliar pada
2025. Selain itu, dengan AS sebesar USD 50 miliar. Mendag menegaskan, upaya peningkatan ekspor ini bukan semata-mata untuk industri besar saja, tetapi juga dengan mendorong dan mengembangkan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang berorientasi ekspor.

Mendag menambahkan, Indonesia kini sedang mengukir reputasi sebagai sebuah ekonomi yang layak diperhitungkan dalam kancah ekonomi global. Perekonomian Indonesia tumbuh rata-rata
5,2 persen dan kini menempati peringkat ke-16 sebagai ekonomi terbesar di dunia, dan peringkat ke-4 sebagai tempat tujuan investasi terfavorit di dunia. “Pada tahun 2050, Indonesia diprediksi
akan menjadi ekonomi terbesar ke-3 di Asia dan ke-4 di dunia,” pungkas Mendag dengan optimis.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Pedagangan RI, 16 April 2019.

Indonesia Industrial Summit 2019, Tonggak Perjalanan Satu Tahun Making Indonesia 4.0

Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah peta jalan yang diterapkan untuk mencapai tujuan Indonesia menjadi negara 10 besar ekonomi dunia pada 2030. Sejak peluncurannya oleh Presiden RI tepat satu tahun lalu, Kementerian Perindustrian melakukan berbagai langkah untuk mempercepat penerapan Making Indonesia 4.0 sebagai game changer pertumbuhan ekonomi nasional. “Studi McKinsey menunjukkan, ini berpeluang meningkatkan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesar USD120-150 Miliar pada 2025. Selain itu, meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan Indonesia Industrial Summit (IIS) 2019 di Tangerang, Senin (15/4).

Pelaksanaan IIS 2019 yang mengambil tema “Implementasi Making Indonesia 4.0 Menuju Indonesia Menjadi Negara 10 Besar Ekonomi Dunia” bertujuan memberikan gambaran mengenai perjalanan penerapan peta jalan tersebut selama satu tahun penerapannya. Dalam periode tersebut, pemerintah telah menjalankan langkah-langkah strategis untuk mendukung percepatan adopsi industri 4.0. Pertama, peluncuran Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), atau indikator penilaian tingkat kesiapan industri di Indonesia dalam menerapkan teknologi era industri 4.0. Tahap awal assessment INDI 4.0 telah diikuti oleh 326 perusahaan industri dari sektor industri makanan dan minuman, tekstil, kimia, otomotif, elektronika, logam, aneka, dan sektor engineering, procurement, and construction (EPC).

INDI 4.0 diluncurkan dalam IIS 2019 dengan menampilkan memberikan penghargaan untuk lighthouse industry dan perusahaan pemenang INDI 4.0. Penilaian INDI 4.0 menggunakan mekanisme self-assessment oleh perusahaan dengan mengukur lima pilar, yaitu manajemen dan organisasi, manusia dan budaya, produk dan layanan, teknologi, serta operasional pabrik. Rentang skor penilaian INDI 4.0 adalah dari level 0 (belum siap) yang artinya “belum siap” bertransformasi ke industri 4.0, kemudian level 1: industri masih pada tahap “kesiapan awal”, level 2: industri pada tahap “kesiapan sedang”, level 3: industri sudah pada tahap “kesiapan matang” bertransformasi ke industri 4.0, dan level 4: industri “sudah menerapkan” sebagian besar konsep industri 4.0 di sistem produksinya. “Secara umum, industri manufaktur Indonesia berada dalam posisi cukup siap menerapkan industri 4.0,” ujar Menperin.

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menjadi official country partner pada Hannover Messe 2020 yang merupakan pameran teknologi industri terbesar di dunia. Pameran yang rutin diselenggarakan setiap tahun di Hannover, Jerman tersebut merupakan platform strategis untuk mengkampanyekan Making Indonesia 4.0 secara global sebagai inisiatif strategis Indonesia dalam menjawab tantangan Industri 4.0. “Partisipasi Indonesia sebagaiOfficial Partner Country pada Hannover Messe dapat dimanfaatkan untuk mendorong kerja sama di bidang teknologi industri, meningkatkan ekspor produk dan jasa industri, serta menarik investasi pada sektor industri manufaktur,” papar Menperin.

Salah satu agenda IIS 2019 adalah sosialisasi rencana Indonesia dalam Hannover Messe 2020 tersebut. Kemenperin menghadirkan Pavilion Hannover Messe dalam IIS 2019 sebagai pusat informasi bagi perusahaan industri yang berminat berpartisipasi mengharumkan nama Indonesia di dalam pameran tersebut. Duta Besar Jerman untuk Indonesia juga akan menyampaikan mengenai langkah-langkah persiapan yang harus dilakukan oleh Indonesia sebagai OCP pada event besar tersebut dalam sesi diskusi strategis.

Upaya lainnya adalah melaksanakan program Making Indonesia 4.0 Start-Up yang bertujuan menggali ide-ide inovasi dari perusahaan-perusahaan start-up berbasis teknologi. Dari 84 peserta yang lolos seleksi, terpilih lima start-up terbaik dengan inovasi teknologi yang siap dikomersialkan. “Kami mengharapkan start-up di tanah air semakin menyadari pentingnya infrastruktur digital yang menjadi ciri penerapan Industri 4.0 seperti cloud computing untuk mendukung bisnisnya,” kata Menperin.

Era revolusi industri 4.0 menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam penguasaan teknologi. Era ini akan memberikan peluang lapangan kerja baru di Indonesia hingga 18 juta orang, dengan 4,5 tenaga kerja baru diserap sektor industri dan 12,5 juta lainnya oleh sektor jasa penunjang industri. “Pengembangan SDM industri merupakan suatu bentuk komitmen Pemerintah dalam mempersiapkan SDM menghadapi era industri 4.0,” ujar Menperin.

Indonesia Industrial Summit 2019 diselenggarakan pada 15-16 April 2019 di Indonesia Convention Exhibition BSD Tangerang. Kegiatan ini merupakan forum konsolidasi para pemangku kepentingan untuk membangun rumusan bersama mengenai langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan dalam mengakselerasi transformasi digital sektor industri manufaktur. IIS 2019 dihadiri oleh hingga 5.500 peserta yang terdiri dari para pelaku industri, pengelola kawasan industri, asosiasi industri, pelaku IKM dan start-up sektor industri, para Duta Besar negara sahabat, Pejabat Kementerian/Lembaga terkait, Gubernur, Bupati/Walikota, Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta akademisi dan praktisi.

Pertemuan ini juga diisi dengan Forum Strategis yang menghadirkan Para Menteri terkait untuk membahastransformasi kebijakan pemerintah dalam menghadapi era industri 4.0 seperti misalnya kebijakan insentif fiskal untuk mendorong perusahaan industri melakukan inovasi teknologi dan investasi pada peningkatan kompetensi SDM, strategi peningkatan penetrasi pasar untuk mendorong ekspor industri manufaktur, kebijakan upskilling dan reskilling kompetensi tenaga kerja untuk beradaptasi dengan era industri 4.0. Selain itu, Wakil Gubernur Jawa Timur yang mewakili generasi muda juga akan menyampaikan mengenai Pemberdayaan Generasi Millennial dalam mendukung agenda Making Indonesia 4.0. Forum strategis juga akan menghadirkan pembicara dari dunia usaha untuk berbagi pengalaman mengenai langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan dalam bertransformasi menuju industri 4.0.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Perindustrian, 15 April 2019.

Kemendag Rangkul Pemangku Kepentingan Tingkatkan Pontensi Ekspor Melalui Pemanfaatan Niaga Elektronik


Kementerian Perdagangan merangkul para pemangku kepentingan (stakeholders) untuk memaksimalkan peluang peningkatan ekspor nonmigas melalui pemanfaatan niaga elektronik (niaga-el/e-commerce). Upaya ini dilakukan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) dengan menggelar diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) di Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/4) yang mengusung tema “Pengembangan UKM Tujuan Ekspor Melalui Pemanfaatan E-Commerce”.

Turut hadir pada pertemuan itu, para praktisi seperti IDEA, beberapa platform perdagangan daring, perusahaan logistik, dan perwakilan dari Kementerian/Lembaga, seperti dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Badan Karantina Kementerian Pertanian, serta Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor.

“FGD ini digelar untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan terkait agar peluang niaga elektronik dapat dimanfaatkan dengan lebih maksimal sehingga mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam peningkatan ekspor nonmigas,” jelas Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan. Marolop juga menyampaikan, seiring meluasnya jangkauan layanan internet, bisnis niaga-el di Indonesia berkembang sangat pesat dalam satu dekade terakhir. Kini, bermunculan para pelaku kreatif sehingga perlu disediakan wadah pembinaannya. Selain produk fisik, perdagangan dalam kategori jasa fisik dan jasa digital yang berorientasi kepada pasar global telah mulai meningkat.

“Untuk itu, diperlukan dukungan bagi para pelaku dalam menciptakan variasi produk dan jasa untuk berkembang di pasar nasional serta menembus pasar global. Selain itu, ke depannya diperlukan kemudahan bagi para pelaku usaha Indonesia untuk melakukan ekspor melalui platform niaga elektronik sehingga konsumen di luar negeri dapat dengan mudah mendapatkan barang dan produkproduk Indonesia,” jelas Marolop.

Dari FGD, berhasil diidentifikasi hal-hal yang perlu diperhatikan dalam digitalisasi UKM di Indonesia. Pertama, fokus pada segmen pelaku UKM strategis yang memiliki pola pikir kewirausahaan. Kedua, hilirisasi pada peningkatan produk lokal melalui peningkatan nilai tambah, dan unggul dalam pasar nasional dan dapat bersaing di pasar global. Ketiga, berorientasi ekspor binis ke bisnis (B2B) dan bisnis ke konsumen (B2C) platform global.

Hasil lain yang diperoleh melalui FGD yaitu perlunya upaya untuk meningkatkan kapasitas (literasi) para pelaku UKM dalam melakukan perdagangan daring yang dimulai dari hal-hal mendasar, seperti penggunaan surat elektronik maupun situs. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kemampuan pelaku UKM diharapkan akan meningkatkan minat mereka untuk memanfaatkan niaga-el. Para peserta juga sepakat bersinergi dan mengusulkan proyek percontohan.

“Proyek percontohan akan difokuskan pada salah satu sektor usaha dengan tujuan pasar tertentu. Kemendag akan memilih para pelaku usaha yang akan dibimbing hingga akhirnya dapat menjual dan mengekspor produk-produknya ke luar negeri dengan menggunakan niaga elektronik,” jelas Marolop. Proyek ini, lanjut Marolop, ditargetkan untuk dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. ” Diharapkan melalui bimbingan yang intensif, proyek percontohan ini dapat mengahasilkan 10 UKM eksportir baru,” imbuhnya.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Perdagangan RI, 12 April 2019.

Kementerian Perindustrian Pacu TKDN Infrastruktur Penunjang Industri 4.0

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengoptimalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) terhadap pengerjaan berbagai proyek penunjang Industri 4.0. Misalnya, pada proyek Palapa Ring, Kemenperin telah memacu program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) yang tujuannya juga untuk mengurangi impor. “Dalam pengerjaan proyek Palapa Ring di paket timur, Kemenperin mendorong penggunaan produk lokal sesuai dengan ketentuan TKDN yang mengharuskan minimal ada 30 persen konten dalam negeri,” kata Direktur Elektronika dan Telematika Kemenperin Janu Suryanto saat menjadi pembicara dalam Forum Merdeka Barat 9 yang bertajuk ’Menuju Indonesia Merdeka Sinyal’ di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Rabu (10/4).

Janu mengungkapkan, proyek Palapa Ring membutuhkan 35.280 kilometer kabel bawah laut dan 21.807 kilometer kabel darat. Karenanya, peningkatan produksi atau ekspansi sektor industri elektronika dan telematika menjadi sangat penting untuk menjawab tantangan kebutuhan konten lokal dalam infrastruktur Industri 4.0. “Dengan peluang dan tantangan yang ada pada sektor itu, industri elektronika 4.0 membutuhkan investasi manufaktur kelas dunia yang memiliki kemampuan manufaktur terdepan selain assembly, didukung tenaga kerja terampil dan inovatif, serta industri unggulan domestik yang berbakat,” terangnya.

Secara keseluruhan, kebutuhan industri kabel komunikasi di dalam negeri mencapai 9 juta kilometer. Industri dalam negeri sendiri sudah bisa memproduksi sebanyak 5,4 juta kilometer kabel serat optik. Pada tahun 2019, diproyeksikan ada tambahan pabrik kabel serat optik baru yang mulai beroperasi. “Akan ada investasi baru mencapai Rp1 triliun untuk pembangunan pabrik  kabel serat optik di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah,” ungkap Janu. Dia menambahkan, saat ini Kementerian Perindustrian sudah memetakan beberapa pengguna potensial kabel serat optik dalam negeri, antara lain, PT Telkom Indonesia Operational & Maintenance, Regional Metro Junction (RMJ) Project, Back Bone & RING Project, TiTo Project (Trade In Trade Out), FTTH Project, Cable TV Project, Cellular Mobile Project, PALAPA RING ProjectIndonesia National Broadband Project. “Di Pasar, supply kabel FO lokal cuma 60%, sisanya 40% masih impor,” imbuhnya.

Industri IoT

Proyek Palapa Ring Ring atau yang belakangan disebut ‘Tol Langit’ diproyeksikan bisa mendorong percepatan tumbuhnya industri manufaktur di Tanah Air. Dalam industri 4.0, dikenal lima teknologi dasar yang perlu dikuasai, diantaranya artificial intelligence, internet of things (IoT), wearables (augmented reality dan virtual reality), advanced robotics, dan 3D printing.  “Dari lima teknologi tersebut, IoT merupakan yang paling fundamental dan membutuhkan koneksi internet yang sangat cepat,” ujar Janu. Teknologi IoT mendorong industri untuk bertransformasi memanfaatkan teknologi digital dan internet dalam menopang proses produksi agar lebih terintegrasi, efisien, dan produktif. Menurut Janu, industri Internet of Things (IoT) di Indonesia mulai tumbuh dengan perkiraan pangsa pasar mencapai Rp444 triliun pada 2022. “Nilai tersebut disumbang dari konten dan aplikasi sebesar Rp192,1 Triliun, disusul platform Rp156,8 Triliun, perangkat IoT Rp56 Triliun, serta network and gateway Rp39,1 Triliun,” jelasnya.

Berdasarkan penelitian McKinsey, infrastruktur digital akan memberikan peluang hingga USD 150 Miliar terhadap perekonomian nasional di tahun 2025. Apalagi, Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan pengguna internet tertinggi di dunia, mencapai 143,26 juta orang atau lebih dari 50% total penduduk di Indonesia.

Melihat peluang tersebut, Janu mengatakan, Kementerian Perindustrian telah mengambil langkah pengembangan serta fasilitasi untuk mendukung pertumbuhan industri seperti pembangunan infrastruktur, regulasi dan pendidikan terkait ekonomi digital untuk memastikan bahwa bangsa Indonesia telah siap untuk masuk ke dalam tren teknologi digital secara global. “Kehadiran Palapa Ring dan ketersediaan internet cepat diharapkan bisa mengakselerasi inklusi masyarakat ke dalam aktivitas ekonomi digital,” pungkasnya.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Perindustrian RI, 11 April 2019.

Data Harga Komoditas Dagang Pokok Dan Strategis Kota Manado Periode Maret Minggu Ke 4 Hingga April Minggu Ke 1 Tahun 2019

Download disini: Data_KomoditasDagangPokokDanStrategis-Mar4~Apr1-2019_Manado

Kementerian Perindustrian Siap Telurkan Inovasi Startup Industri Kerajinan dan Batik

Kementerian Perindustrian gencar mendorong pelaku industri nasional untuk terus menciptakan inovasi produk. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, salah satunya melalui pemanfataan teknologi digital, yang tujuannya menghasilkan produk berdaya saing global.

“Saat ini, penguatan inovasi bagi sektor industri menjadi sangat penting. Langkah ini perlu kolaborasi dengan seluruh stakeholder,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara di Jakarta, Selasa (9/4). Ngakan optimistis, pengembangan industri melalui inovasi dan teknologi akan berperan dalam peningkatan produktivitas dan kualitas secara efisien.

“Menurut para cendekia, istilahnya adalah technology will always win,” ungkapnya. Lebih lanjut, menurut Ngakan, lembaga litbang di seluruh Indonesia termasuk yang ada di bawah BPPI Kemenperin dapat menjadi penyokong utama terbentuknya ekosistem inovasi yang melahirkan riset-riset berkualitas dan memberi manfaat bagi kemajuan industri nasional.

“Guna menghasilkan inovasi yang sesuai kebutuhan di dunia industri, balai litbang Kemenperin terus berupaya menggandeng sektor swasta untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan riset atau alih teknologi yang mendukung kemajuan sektor manufaktur nasional,” tuturnya.

Hingga saat ini, jumlah balai litbang yang ada di lingkungan BPPI Kemenperin sebanyak 11 Balai Besar dan 11 Balai  Riset Standardisasi (Baristand) Industri.  “Setelah sukses dengan kegiatan Innovating Jogja di tahun 2016 dan 2018, pada tahun ini Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) di Yogyakarta kembali meluncurkan kegiatan Innovating Jogja 2019,” ungkap Ngakan.

Kepala BBKB Titik Purwati Widowati mengatakan, kegiatan Innovating Jogja tahun ini menitikberatkan pada penumbuhan usaha yang bergerak pada bidang kerajinan dan batik.  Apalagi, batik merupakan salah satu produk unggulan yang berkontribusi cukup besar bagi perekonomian nasional melalui capaian ekspornya. Kemenperin menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau naik 10 persen dibanding capaian tahun lalu sebesar USD53,3 juta. Ekspor batik Indonesia mayoritas dikapalkan ke negara maju seperti Jepang, Belanda dan Amerika Serikat. Kemenperin juga mencatat, nilai ekspor dari produk karya nasional pada Januari-November 2018 mampu mencapai USD823 juta, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD820 juta. Industri kerajinan di Indonesia jumlahnya cukup banyak, yaitu lebih dari 700 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,32 juta orang.

“Kegiatan Innovating Jogja secara umum menggabungkan tujuan kegiatan Innovating Jogja terdahulu, untuk menghasilkan startup kerajinan dan batik di Yogyakarta yang inovatif dengan fungsi alih teknologi dan inkubasi hasi-hasil litbang yang dihasilkan oleh BBKB Yogyakarta,” paparnya. Menurut Titik, pada tahun 2019, pihaknya tidak hanya menyeleksi calon peserta yang memiliki inovasi di bidang kerajinan dan batik, tetapi juga mereka yang berminat untuk memanfaatkan teknologi kompor listrik batik tulis hasil penelitian BBKB.

Pendaftaran terbuka bagi masyarakat Yogyakarta di bawah usia 45 tahun dengan mengisi aplikasi dan proposal usaha. Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat di sini:  https://bbkb.kemenperin.go.id/ , dan pendaftaran paling lambat 31 Mei 2019. (Formulir pendaftaran dapat di download disini: Formulir_Pendaftaran-InkubasiBisnisDanKerajinanBatik, Formulir pendaftaran dan proposal dapat dikirimkan melalui email di: innovatingjogja.kemenperin@gmail.com, atau diantar maupun dikirimkan ke Balai Besar Kerajinan dan Batik Jl. Kusumanegara No. 7 Yogyakarta. Estimasi waktu pelaksanaan: Seleksi proposal: 17-19 Juni 2019, Bootcamp: 24-26 Juni 2019, Seleksi business plan: 27-28 Juni 2019.

“Calon tenant yang proposalnya lolos seleksi adminstratif dan presentasi, akan mengikuti kegiatan bootcamp. Pada akhir kegiatan bootcamp akan dipilih dua tenant inovasi dan dua tenant alih teknologi kompor listrik batik tulis untuk mengikuti kegiatan inkubasi,” jelasnya. Keempat peserta yang dipilih akan mendapatkan program penguatan teknis produksi, pembangunan dan pengembangan bisnis dari Balai Besar Kerajinan dan Batik serta bantuan bahan produksi senilai Rp20 juta. “Harapan kami pada tahun 2019 ini akan muncul ide inovasi bisnis yang tidak kalah dibandingkan dengan pendahulu-pendahulunya,” imbuh Titik. Pada ajang Innovating Jogja sebelumnya, muncul inovasi bisnis yang terus berkembang, diantaranya Wastraloka yang bergerak dalam bidang seni lukis pada kerajinan kaleng, Janedan yang bergerak dalam bidang kerajinan kulit tanpa jahit, dan Alra yang bergerak dalam bidang kerajinan kulit kekinian. Selanjutnya, muncul pula inovasi bisnis di bidang batik, seperti Tizania Batik yang bergerak dalam bidang batik latar ringkel dan By&G yang bergerak dalam bidang tas tenun agel kombinasi batik.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Perindustrian RI, 9 April 2019.

Generasi Muda Harus Tumbuhkan Konsep Kewirausahaan

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengajak kalangan akademisi, khususnya mahasiswa, menumbuhkembangkan konsep kewirausahaan agar dapat bersaing di era perdagangan bebas dan
industri 4.0. Hal tersebut ditegaskan Mendag saat mengisi kuliah umum bertema “Entrepreneurship 4.0 To Be Young and Successful” di STMIK CIC, Cirebon, Kamis (4/4). “Pada 2025 Indonesia diprediksi mendapatkan bonus demografi dengan sekitar 60 persen dari 300 juta penduduk berusia produktif. Pertumbuhan penduduk ini tentunya harus dimanfaatkan untuk memunculkan peluang baru bagi peningkatan ekspor dan penting bagi generasi muda untuk menumbuhkan konsep kewirausahaan agar dapat berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi,” ujar Mendag.

Mendag melanjutkan, generasi muda harus bisa termotivasi pada perkembangan wirausaha di negara-negara maju. Pada 2018, rasio wirausahawan di negara-negara maju telah mencapai14 persen dari total penduduk usia kerja, sedangkan di Indonesia baru mencapai 3,1 persen. Oleh karena itu, Mendag memaparkan beberapa konsep kewirausahaan yang patut dikembangkan.
Pertama, generasi muda harus mengadopsi sifat jangan mudah puas. Menurut Mendag, wirausaha sukses tidak menyukai sesuatu yang instan dan cenderung menghindari metode usaha cepat kaya. Selanjutnya, Mendag juga menekankan pentingnya aspek pemberdayaan dan kemitraan. “Wirausahawan sukses juga adalah individu yang visioner dan ekspansif. Namun yang harus diingat adalah tetap terukur dalam menetapkan level ekspansi dan risiko dalam mengembangkan usaha. Jangan lupa untuk selalu mencari ide di luar kebiasaan,” jelas Mendag.

Dalam paparannya, Mendag juga mementingkan aspek kepercayaan dalam berusaha, harus tepat dalam kualitas produk, waktu, dan janji. Adapun generasi muda juga harus memerhatikan sumber daya yang dimiliki internet untuk pengembangan usaha, seperti 5G, iCloud, dan blockchain. Internet dapat mendukung diversifikasi produk ekspor yang lebih berorientasi pada peningkatan keterampilan dan teknologi, meningkatkan infrastruktur penunjang perekonomian, memfasilitasi penerapan teknologi dalam sistem produksi, manajemen, pemasaran, dan kegiatan produksi lainnya, serta meningkatkan produktivitas melalui pengembangan sumber daya manusia. “Jika bonus demografi ini sukses, maka prediksi Indonesia menjadi negara ekonomi terbesar ke-3 di Asia dan ke-4 di dunia pada 2050 akan tercapai,” tegas Mendag.

Pada kunjungan kerja ke Cirebon kali ini, Mendag Enggar juga berkesempatan mengajak generasi muda mencintai produk dalam negeri dengan mendeklarasikan gerakan Aku Cinta Produk Indonesia (ACI) bersama-sama pelajar dan mahasiswa di SMA BPK Penabur Cirebon dan STMIK Catur Insan Cendikia (CIC), Cirebon.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Perdagangan RI, 4 April 2019.

Indonesia-Filipina Sepakat Tingkatkan Perdagangan dan Investasi

Pemerintah Indonesia dan Filipina sepakat memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara. Kesepakatan tersebut dicapai pada pertemuan bilateral antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Ramon M. Lopez dan Menteri Pertanian Filipina Emmanuel Pinol di Manila, Filipina, Senin (1/4). “Indonesia dan Filipina berkomitmen untuk terus menjaga hubungan baik guna keberlangsungan kegiatan perdagangan dan investasi kedua negara. Kedua negara juga sepakat untuk saling memperluas akses pasar bagi produk-produk ekspor Indonesia dan Filipina,” tegas Mendag.

Lebih lanjut, dalam pertemuan bilateral ini juga dibahas mengenai penerapan Special Agricultural Safeguard (SSG) untuk produk kopi instan Indonesia yang telah diberlakukan Filipina sejak Agustus 2018. Produk kopi instan (HS 21011110), berdasarkan data BPS, merupakan produk ekspor terbesar ke-4 bagi Indonesia pada 2018 dengan nilai ekspor USD 367,4 juta dan secara
keseluruhan untuk produk makanan minuman sebesar USD 600 juta. “Kopi instan adalah salah satu produk ekspor unggulan Indonesia ke Filipina dan berkontribusi menyumbangkan devisa bagi Indonesia. Untuk itu, tugas kamilah mengamankan akses pasar produk unggulan Indonesia, termasuk kopi instan ke negara tujuan ekspor. Menteri Perdagangan dan Industri serta Menteri Pertanian Filipina telah sepakat meninjau ulang penerapan SSG untuk produk kopi instan Indonesia dan akan mendiskusikan secara internal dengan instansi terkait. Hal ini tentunya merupakan perkembangan yang positif bagi Indonesia,” imbuh Mendag.

Selain itu, lanjut Enggar, Indonesia dan Filipina setuju untuk melakukan reaktivasi terhadap Joint Working Group (JWG) guna membahas isu-isu perdagangan bilateral kedua negara. Dalam waktu
dekat juga akan dibentuk technical working group on palm bersama dengan Filipina dan Malaysia. “Diharapkan JWG ini nantinya dapat menghasilkan solusi yang praktis dan dapat memfasilitasi
penyelesaian isu-isu yang menjadi perhatian bagi dunia usaha di kedua negara. Sejalan dengan tujuan tersebut, kami juga mengusulkan pelaksanaan forum bisnis dan penjajakan kerja sama
dagang (business matching) setiap tahunnya,” ujar Mendag.

Pada pertemuan ini, Mendag Enggar juga menyampaikan Pemerintah Indonesia telah memenuhi komitmen mengatasi hal-hal yang menjadi perhatian Filipina di sektor pertanian, di antaranya
mencabut penerapan bea masuk anti-dumping untuk pisang Cavendish, serta mengeluarkan pengakuan beberapa wilayah di Filipina sebagai area bebas hama untuk pisang. Indonesia juga
telah merevisi ketentuan mengenai registrasi laboratorium penguji keamanan pangan segar asal tumbuhan Filipina.

Nota Kesepahaman Mayora Group

Sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral dan memperluas pasar produk Indonesia di Filipina, salah satu perusahaan terbesar manufaktur Indonesia, Mayora Group, telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pembelian kelapa dan turunannya dengan beberapa perusahaan Filipina, serta MoU terkait investasi perusahaan tersebut di Filipina. “Kesepakatan dagang ini diharapkan dapat semakin mengukuhkan hubungan perdagangan dan investasi kedua negara.

Saat ini Pemerintah Filipina sepakat mengkaji kembali kebijakan perdagangan dan investasi mereka, termasuk kebijakan penerapan SSG sebagai upaya resiprokal untuk membuka akses pasar masing-masing negara,” pungkas Mendag. Pada 2018, total perdagangan bilateral Indonesia dan Filipina mencapai USD 7,7 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 6,8 miliar dan impor Indonesia sebesar USD 0,9 miliar.

Untuk Januari 2019, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD 465,24 juta atau meningkat 19,28 persen bila dibandingkan dengan surplus pada Januari 2018. Ekspor Indonesia ke Filipina
didominasi produk mesin dan bagiannya, serta komponen mesin yang mendukung produksi dalam negeri dan ekspor Filipina ke Amerika Serikat (AS), Hong Kong, Jepang, China, Singapura, Jerman, Thailand, dan Korea Selatan.

Sumber: Siaran Pers, Kementerian Perdagangan RI, 2 April 2019.