Pelabelan Kadaluarsa

Tanggal kadaluarsa atau yg pada umumnya disebut dengan tanggal expired adalah, sebuah tanggal yang telah ditetapkan agar setelah tanggal tersebut sebuah produk seyogyanya tidak lagi digunakan, berdasarkan sebuah aturan hukum ataupun diperkirakan telah melebihi waktu simpan yang telah diperkirakan sebelumnya, terutama untuk produk-produk yang mudah rusak. Tanggal expired diaplikasikan pada berbagai produk konsumsi dan beberapa produk manufaktur dimana umur produk menentukan keselamatan penggunaannya, contohnya tempat duduk bayi untuk mobil, ban kendaraan bermotor, bahkan baterai. Tanggal expired juga bisa ditemukan pada berbagai produk kupon, tawaran promosi, dan kartu debit/kredit. Dalam konteks ini, tanggal expired digunakan untuk lebih mengedepankan keamanan penggunaannya daripada keselamatan penggunaannya. Tanggal kadaluarsa sering dicantumkan dengan bentuk awalan “ED” atau “EXP”, dimana definisi legal dan penggunaannya bervariasi antara berbagai negara dan bentuk produknya.

Tanggal kadaluarsa memiliki beberapa penyebutan berbeda, contohnya:

  1. Best before. Bentuk kadaluarsa seperti ini muncul pada berbagai makanan beku, kering, kalengan, dan lain-lain. Bentuk penanggalan seperti ini muncul sebagai sebuah bentuk nasihat mengenai kualitas dari sebuah produk. Makanan yang disimpan melebihi tanggal “Best Before” tidak akan serta merta menjadi bahan berbahaya untuk konsumsi, melainkan akan mulai kehilangan rasa dan bentuk. Telur adalah sebuah kasus yang spesial karena mengandung bakteri Salmonella yang jumlahnya bertambah banyak setiap saat, dan dapat menyebabkan Salmonellosis.  Oleh karena itulah telur harus dikonsumsi sebelum tanggal “Best before”, yang pada umumnya jatuh pada 45 hari setelah telur di kemas. Salmonellosis itu sendiri adalah sebuah penyakit infeksi bakteri Salmonella dengan gejala-gejala umum meliputi diare, demam, kram perut, dan muntah. Gejala ini muncul antara 12 hingga 36 jam setelah konsumsi produk yang tercemar, dan dapat berlangsung selama 2 hingga 7 hari. Jika infeksinya sangat parah maka dapat terjadi gejala dehidrasi, terutama pada mereka yang terlalu muda, terlalu tua, dan mereka yang memiliki sistem imunitas yang lemah. Beberapa infeksi Salmonella bisa menyebabkan Typhoid Fever dan Para-Typhoid Fever.
  2. Use by. Bentuk kadaluarsa seperti ini menerangkan bahwa sebuah produk tidak boleh dikonsumsi setelah tanggal yang ditetapkan. Hal ini terjadi karena setelah tanggal tersebut produk yang dimaksud biasanya dapat rusak dengan sangat cepat, dan dapat membahayakan kesehatan bagi mereka yang mengkonsumsinya. Produk-produk seperti ini biasanya menurutsertakan tata cara penyimpanan yang harus dilaksanakan, biasanya menampilkan tata cara proses pendinginannya. Beberapa produk akan menerangkan “Dikonsumsi dalam XXX hari setelah dibuka”.
  3. Open dating. Bentuk kadaluarsa seperti ini menerangkan seberapa lama produk dapat dipajang untuk dijual sebelum ditarik dari rak penjualan. Hal ini menguntungkan konsumen karena produk yang dibeli dapat dijamin kualitasnya pada saat transaksi. Tanggal Open dating tidak serta merta diikuti dengan tanggal Use by, walau demikian jika tercantum maka harus ditaati.
  4. Sell by/Display until. Penanggalan seperti ini digunakan untuk membantu proses pencatatan pada sebuah toko. Produk yang telah melewati tanggal Sell by/Display until akan tetapi belum mencapai tanggal Use by atau Best before tersebut masih dapat dikonsumsi, dengan mengambil asumsi bahwa produk tersebut disimpan dengan tata cara yang benar. Munculnya tanggal seperti ini mengakibatkan cukup banyak penjual yang membuang produk konsumsi yang dimaksud, karena membuat pengendalian stok barang menjadi lebih mudah. Hal lain yang sering dilakukan penjual adalah membeli produk-produk tersebut kemudian menjualnya kembali dengan harga yang lebih rendah. Tata cara seperti ini mengurangi kemungkinan konsumen yang membeli produk tersebut tanpa memperhatikan tanggal kadaluarsa, untuk kemudian menyadari dikemudian hari bahwa produk tersebut tidak bisa digunakan.

Perlu dijadikan catatan bahwa kegiatan atau proses yang dapat mengubah, menghapus, dan atau apapun itu yang dapat mengganggu proses pembacaan tanggal kadaluarsa yang tercantum adalah kegiatan ilegal, dan dapat diproses secara hukum. Pelabelan bahan konsumsi manusia di Indonesia diatur oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah no. 69 tahun 1999 tentang Label Dan Iklan Pangan. Download di sini: PP-69_th-1999_PelabelanPangan.

Selain tanggal kadaluarsa ada juga yang disebut dengan “Umur Simpan” dari sebuah produk atau Shelf Life. Shelf Life sebuah produk menerangkan panjangnya waktu simpan sebuah produk sebelum akhirnya dinyatakan tidak lagi layak untuk konsumsi. Ini mengacu pada apakah sebuah komoditas masih layak atau tidak untuk tetap berada di laci dapur atau rak pajangan di supermarket. Ini berlaku pada kosmetik, minuman, makanan, peralatan medis, obat-obatan, bahan peledak, bahan kimia, bahan sediaan farmasi, ban kendaraan bermotor, baterai, dan berbagai bahan lainnya yang mudah rusak.

Ada cukup banyak faktor yang dapat mempengaruhi seberapa lama umur simpan dan munculnya tanggal kadaluarsa, yang semuanya dapat di golongkan menjadi 2, yaitu:

  1. Faktor intrinsik. Hal ini meliputi sifat-sifat akhir dari produk jadi. Hal ini meliputi aktivitas air, pH, potensi redoks, ketersediaan oksigen, nutrisi, mikroflora alami, komponen biokimia alami didalam produk (enzim, pereaksi kimia), dan penggunaan pengawet.
  2. Faktor ekstrinsik. Hal ini meliputi berbagai peristiwa yang terjadi pada produk akhir ketika melewati rantai distribusi. Hal ini meliputi berbagai faktor pada proses produksi, penyimpanan, dan distribusi, suhu, kelembapan relatif, paparan cahaya (UV, IR), keberadaan mikroba di suatu lingkungan, komposisi udara dalam kemasan, perlakuan suhu, dan tata cara penanganan di tangan konsumen.

Sebelum menentukan umur simpan, kita harus mendapatkan pengetahuan mengenai produk tersebut agar dapat menentukan metode pengujian yang sesuai dengan data yang maksimal. Beberapa hal dasar yang wajib diketahui adalah formulasi produk, sejarah penyakit atau wabah yang berkaitan dengan produk, potensi bahaya yang berkaitan dengan produk serta batasan, persyaratan, dan prosedur kriteria keamanan dan kualitas melalui HACCP, dan rencana kualitas.

HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) adalah sebuah sistem yang distandarisasi oleh ISO (International Standar Organization) melalui sistem ISO 22000 (https://www.iso.org/iso-22000-food-safety-management.html), dimana garis-garis besar dari ISO 22000 dijabarkan di: https://www.iso.org/obp/ui/#iso:std:iso:22000:ed-2:v1:en. Sedangkan untuk pengawasannya di laksanakan oleh masing-masing negara, dimana di Indonesia dilaksanakan oleh Badan POM RI, dengan dukungan instansi-instansi terkait seperti Dinas Perindustrian Dan Perdagangan, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan.

(Disadur dari berbagai sumber)

Menghindari Belanja Impulsif

Berbelanja merupakan kegiatan membeli yang dilakukan untuk memperoleh keinginan atau kebutuhan oleh masyarakat. Masyarakat yang melakukan kegiatan membeli produk disebut juga konsumen. Konsumen melakukan pembelian karena membutuhkan suatu produk. Namun, ada juga yang melakukan pembelian karena sekedar menginginkan suatu produk, hal inilah yang kemudian berkembang menjadi pembelian impulsif atau berbelanja impulsif.

Belanja impulsif atau pembelian tidak terencana merupakan bentuk lain dari pola pembelian konsumen yang tidak secara spesifik terencana. Belanja impulsif terjadi ketika konsumen memiliki keinginan yang kuat untuk membeli sesuatu secepatnya, tanpa adanya pertimbangan yang mendalam terlebih dahulu. Konsumen yang melakukan belanja impulsif akan cenderung tidak menghiraukan konsekwensi atas perilakunya tersebut (Utami, 2010).

Pasti banyak di antara kita yang pernah melakukan pembelanjaan impulsif, dan pasti banyak di anatar kita yang menyesal setelah berbelanja apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Dalam rangka hari konsumen nasional (Harkonas) ke-28, mari kita latih diri kita sendiri untuk menjadi konsumen cerdas dimana salah satu caranya adalah dengan menghindari perilaku belanja impulsif. Di bawah ini akan diberikan beberapa tips untuk menghindari perilaku belanja impulsif.

  • Pertama, buatlah daftar kebutuhan yang diurut berdasarkan tingkat kepentingan kebutuhan. Susun daftar untuk setiap kebutuhan pokok maupun kebutuhan sekunder, sertakan juga daftar rencana yang nantinya melibatkan pembelanjaan.
  • Kedua, pilah penggunaan keuangan anda. Sertakan rencana penggunaan keuangan pada daftar kebutuhan anda. Beri jatah khusus sebagai uang jajan anda agar tidak terjadi tumpang tindih dalam prioritas penggunaan finansial anda.
  • Ketiga, menunda pembelian barang. Saat anda menemukan produk yang ingin anda beli, hindari pembelian secara langsung. Berjalanlah dulu ke area lain atau sibukkan diri anda dengan hal lain agar anda memiliki kesempatan untuk membandingkan produk tersebut dengan produk yang lain. Selain itu anda juga memiliki waktu untuk memikirkan kembali apakah anda benar-benar memerlukan produk tersebut, atau apakah nilai dari produk tersebut sesuai dengan fungsinya.
  • Keempat, minimalisir kunjungan ke tempat berbelanja atau waktu membuka situs belanja. Kebanyakan pembelian impulsif terbentuk saat konsumen berkunjung ke pusat perbelanjaan atau ke situs belanja online. Karena itu, kita perlu mengendalikan keinginan kita dengan merencanakan waktu berbelanja. Batasi frekwensi kegiatan berbelanja anda misalnya dari seminggu sekali menjadi dua minggu sekali.
  • Kelima, gunakan uang tunai. Penggunaan kartu debit atau bahkan kartu kredit saat berbelanja, memunculkan ilusi bahwa anda bisa berbelanja tanpa batas.  Dengan menggunakan uang tunai kita bisa melihat bahwa jumlah fisik uang yang bisa kita belanjakan akan berkurang, sehingga akan muncul dorongan dari dalam diri kita bahwa pembelanjaan kita harus lebih terkendali.
  • Keenam, bangun rasa puas. Rasa puas hakikatnya dibangun dari rasa syukur terhadap apa yang telah kita miliki. Dengan perasaan puas tersebut otomatis kita akan berpikir berkali-kali sebelum berbelanja, karena kita telah mengetahui kebutuhan mana yang telah terpenuhi dan kebutuhan mana yang masih harus dipenuhi. (Oleh: Cyn)