Menghindari Belanja Impulsif

Berbelanja merupakan kegiatan membeli yang dilakukan untuk memperoleh keinginan atau kebutuhan oleh masyarakat. Masyarakat yang melakukan kegiatan membeli produk disebut juga konsumen. Konsumen melakukan pembelian karena membutuhkan suatu produk. Namun, ada juga yang melakukan pembelian karena sekedar menginginkan suatu produk, hal inilah yang kemudian berkembang menjadi pembelian impulsif atau berbelanja impulsif.

Belanja impulsif atau pembelian tidak terencana merupakan bentuk lain dari pola pembelian konsumen yang tidak secara spesifik terencana. Belanja impulsif terjadi ketika konsumen memiliki keinginan yang kuat untuk membeli sesuatu secepatnya, tanpa adanya pertimbangan yang mendalam terlebih dahulu. Konsumen yang melakukan belanja impulsif akan cenderung tidak menghiraukan konsekwensi atas perilakunya tersebut (Utami, 2010).

Pasti banyak di antara kita yang pernah melakukan pembelanjaan impulsif, dan pasti banyak di anatar kita yang menyesal setelah berbelanja apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Dalam rangka hari konsumen nasional (Harkonas) ke-28, mari kita latih diri kita sendiri untuk menjadi konsumen cerdas dimana salah satu caranya adalah dengan menghindari perilaku belanja impulsif. Di bawah ini akan diberikan beberapa tips untuk menghindari perilaku belanja impulsif.

  • Pertama, buatlah daftar kebutuhan yang diurut berdasarkan tingkat kepentingan kebutuhan. Susun daftar untuk setiap kebutuhan pokok maupun kebutuhan sekunder, sertakan juga daftar rencana yang nantinya melibatkan pembelanjaan.
  • Kedua, pilah penggunaan keuangan anda. Sertakan rencana penggunaan keuangan pada daftar kebutuhan anda. Beri jatah khusus sebagai uang jajan anda agar tidak terjadi tumpang tindih dalam prioritas penggunaan finansial anda.
  • Ketiga, menunda pembelian barang. Saat anda menemukan produk yang ingin anda beli, hindari pembelian secara langsung. Berjalanlah dulu ke area lain atau sibukkan diri anda dengan hal lain agar anda memiliki kesempatan untuk membandingkan produk tersebut dengan produk yang lain. Selain itu anda juga memiliki waktu untuk memikirkan kembali apakah anda benar-benar memerlukan produk tersebut, atau apakah nilai dari produk tersebut sesuai dengan fungsinya.
  • Keempat, minimalisir kunjungan ke tempat berbelanja atau waktu membuka situs belanja. Kebanyakan pembelian impulsif terbentuk saat konsumen berkunjung ke pusat perbelanjaan atau ke situs belanja online. Karena itu, kita perlu mengendalikan keinginan kita dengan merencanakan waktu berbelanja. Batasi frekwensi kegiatan berbelanja anda misalnya dari seminggu sekali menjadi dua minggu sekali.
  • Kelima, gunakan uang tunai. Penggunaan kartu debit atau bahkan kartu kredit saat berbelanja, memunculkan ilusi bahwa anda bisa berbelanja tanpa batas.  Dengan menggunakan uang tunai kita bisa melihat bahwa jumlah fisik uang yang bisa kita belanjakan akan berkurang, sehingga akan muncul dorongan dari dalam diri kita bahwa pembelanjaan kita harus lebih terkendali.
  • Keenam, bangun rasa puas. Rasa puas hakikatnya dibangun dari rasa syukur terhadap apa yang telah kita miliki. Dengan perasaan puas tersebut otomatis kita akan berpikir berkali-kali sebelum berbelanja, karena kita telah mengetahui kebutuhan mana yang telah terpenuhi dan kebutuhan mana yang masih harus dipenuhi. (Oleh: Cyn)